Bagi siapapun yang beraspirasi untuk menjadi filmmaker internasional, gue punya satu saran, JANGAN JATUH CINTA SAMA KARYA ELO. Basically, tidak semua orang punya visi yang sama, dan kalau kita bicara film, meskipun awalnya adalah idealisme sang pencipta, pada akhirnya tetap saja harus ada nilai komersialnya. Sayangnya tidak semua pencipta film memiliki pengertian penuh mengenai nilai komersil film mereka, dan untuk menjualnya kita harus melibatkan agen, distributor dan tentunya studio. Mereka adalah pihak yang paling mengerti mengenai bisnis film, namun tidak jarang kalau mereka juga tidak akan peduli dengan idealisme sutradara ataupun pencipta film. Tapi mereka tahu benar apa yang perlu dilakukan untuk menjual film dagangan mereka. Baik itu menampilkan bintang tertentu, memposisikan film sebagai horor, supernatural atau thriller (tiga hal yang serupa tapi beda harganya), dan juga bagaimana merancang komunikasi dan “art” film tersebut.
Untungnya gue bukan orang yang begitu terikat dengan karya gw. Sejak bergabung dengan +entertainment, The Ball is Round sudah berubah menjadi “Golden Goal” dan poster gw pun sudah berubah menjadi lebih komersil. Logika mereka adalah menonjolkan aspek bola film ini, dan bukan komedinya. Oleh karena itu mereka memprioritaskan gambar aksi Frank Leboeuf di poster film.
Selain perubahan tampilan kosmetik, garis cerita filmpun sudah drastis berubah. Yang di belakang sekarang muncul di tengah, dan yang di awal ada yang dipindah ke belakang. Intinya, mereka memperbanyak tema sepak bola dan mengurangi apapun yang tidak bernuansa komedi atau sepak bola. Memang ceritanya sudah berubah dari cerita yang gw bikin pada awal produksi dan pada suntingan terakhir, tapi menurut gw kerja mereka memang membuat cerita lebih straight forward dan lucu. Semoga saja juga jadi laku di pasar internasional.
Hari ini gw terima kabar bahwa ada beberapa media entertainment di AS yang minta waktu untuk menginterview gw minggu depan mengenai film Bola itu Bundar pas nanti gw di Amerika, not bad. Siapa sangka film ini bisa menarik perhatian media non-sepak bola di Amerika. Sebelum ini memang gw sudah melihat berita BIB di koran The Telegraph (Inggris), The Australian (Australia kali ya) dan ESPN STAR (Singapura), tapi baru sekarang ada media AS yang tertarik ingin meliput BIB. Salah satu media yang akan menginterview adalah Celebrity Spotlight Radio, dan siaran mereka ada versi internetnya, jadi bisa didengar di Indonesia juga. Cool. Oh ya, gw akan diinterview bareng Wilmer Valderrama (Bintang That 70’s Show dan acara MTV Yo Mama). Lumayan lah sebagai pemula di industri film Amerika.
Pertama kali gw dikasih tau Costas Mandylor kepengen ikut main di Bola itu Bundar jujur gw agak bingung yang mana orangnya, tapi setelah ngecek foto dia di internet, gw langsung excited banget!
Waktu gw masih kuliah salah satu film favorit gw adalah film gangster berjudul Mobsters, dimana bintangnya adalah Patrick Dempsey , Christian Slater dan …. Costas Mandylor. Gila ternyata dia udah senior banget dan sudah pernah bekerja dengan hampir semua sutradara ngetop di Hollywood dari yang senior seperti Oliver Stone (The Doors) dan Robert Zemeckis (Beowulf) dan yang baru naik daun seperti James Wan (Saw III, Saw IV dan Saw V). Kalau gw hitung di imdb, daftar filmnya sudah lebih dari 86 (http://www.imdb.com/name/nm0541908/), so minder lah gw.
Waktu akhirnya gw nelpon dia untuk ngajak dia ikut main di Bola itu Bundar, gw langsung ngaku kalo gw masih belum begitu berpengalaman, jadi gw harap dia mau sabar kerja bareng gw. Yang gw kaget ternyata dia udah hafal garis besar skenarionya, dan langsung bilang kalo dia kepengen mainin peran pelatih yang tadinya sudah gw kasih ke adik kandungnya, Louis Mandylor. Gw bilang ke dia kalo peran itu sudah di ambil Louis dan dia bilang dia akan berantem sama adiknya di pesawat untuk memutuskan siapa yang akan mainin peran pelatih Frank Lazaridis. Dia juga bilang jangan khawatir atau minder kerja sama dia dan rekan rekannya dari Hollywood, dia bilang gw jenderalnya dan anggap mereka sebagai kapten di lapangan yang akan mbantu gw mengeksekusikan keinginan gw. Dan ternyata seperti itulah kenyataannya.
Costas, Louis dan Jimmy Jean Louis sudah lama berkecimpung di Hollywood dan mereka tidak ragu ragu membagi pengalaman mereka. Tanpa ego tanpa belagu, mereka mbantu gw membedah naskah dan memperkaya adegan. Salah satu adegan yang paling gw suka adalah dimana mereka semua berkumpul di restoran bareng Nova dan Happy Salma. Adegan yang tadinya tidak begitu banyak unsur komedinya diperkaya dengan sedikitnya 5 jokes baru dari mereka.
Yang gw salut lagi ke Costas, dia ngabur ke Bali ditengah tengah shooting SAW V. Nggak ngabur sih, memang lagi ada break, jadi dia memanfaatkan waktunya untuk gabung di film BIB. Ada yang berpendapat Costas dan pemain yang lain rela ke Bali karena kepengen liburan disini, tapi yang sebenarnya mereka nggak ada yang liburan. Mereka sibuk membantu gw memperkaya naskah dan mbantu di lapangan. Gw bisa bilang Louis dan Jimmy Jean bekerja layaknya asisten sutradara, sementara Costas juga mbantu untuk mengasah naskah dan dialog.
So rupanya memang begitu pola kerja artis amerika, makin ngetop orangnya, makin keras kerjanya. Makin sukses mereka, makin ramah dan terbuka orangnya.